Tepung Buah Mangrove


ImageJakarta (ANTARA News) – Buah mangrove ternyata bisa “disulap” menjadi tepung untuk bahan baku berbagai penganan terutama kue, demikian hasil penelitian Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Kementerian Perindustrian.

“Selama ini, pemanfaatan buah mangrove secara konvensional hanya dimasak, belum dilakukan penelitian secara ‘ultimate’ (mutakhir),” kata Kepala BBTPI Sudarto dalam seminar diseminasi hasil litbang yang bertajuk “Peran Balai Besar Teknologi Penvegahan Pencemaran Industri dalam Mewujudkan Hilirisasi Industri Hijau” di Kementerian Perindustrian di Jakarta, Selasa.

Menurut Sudarto belum banyak dilakukan analisa kualitas komposisi senyawa yang terkandung dalam buah mangrove seperti berapakah kandungan klorofil, vitamin C, HCN, dan gluten.

Selan itu, potensi buah mangrove ini belum dimanfaatkan skala unit produksi UKM atau mikro melalui kelompok usaha bersama yang disesuaikan dengan sentra mangrove.

“Potensi buah mangrove ini cukup besar, terutama di Jawa tengah dan Jawa Timur, namun belum dimanfaatkan secara kesinambungan untuk pelestarian produksi dan tanaman mangrove,” katanya.

Dia menyebutkan proses pembuatan tepung tersebut dimulai dari perajangan buah mangrove, ekstraksi tanin dan HCN, pengeringan, penggilingan, pengayakan, pengemasan dan menjadi tepung mangrove yang siap dipasarkan.

“Tepung ini merupakan produk antara, yakni antara bahan baku buah bangrove dan produk hilir, yaitu produk jadi seperti kue, ‘cookies‘, keripik dan makanan siap konsumsi lainnya,” katanya.

Sudarto menjelaskan penelitian teknologi pengolahan buah mangrove menjadi tepung tersebut berdasarkan model dan variabel yang berpengaruh terhadap kualitas tepung yang dihasilkan.

“Rancang bangun mesin dan peralatan dengan skala atau kapasitas tertentu diterapkan pada setiap kelompok pengelola mangrove di masing-masing tempat,” katanya.

Pengelolaan buah mangrove tersebut juga merupakan hasil integrasi akademisi, pengusaha, pemerintah dan masyarakat.

Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun menilai tepung yang dibuat dari buah mangrove merupakan penemuan strategis.

“Ini merupakan penemuan strategis dan komoditas ini sangat membantu untuk ketahanan pangan kita dan rasa kue dari tepung mangrove itu enak sekali,” katanya.

sumber : Antaranews.com

Posted in Agoindustri, Umum | Tagged , , , | Leave a comment

Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas


ImageDewasa ini bisnis pengolahan buah-buahan menjadi aneka camilan dan minuman sudah banyak dilakukan oleh masyarakat, terutama di daerah sentra penghasil buah atau daerah wisata. Hal ini karena besarnya potensi hasil pertanian dan perkebunan, serta kebutuhan pasar yang terus meningkat dan terbuka lebar terhadap aneka camilan dan minuman dari olahan buah. Dalam proses pengolahan camilan buah seperti keripik buah, produsen akan dihadapkan dengan salah satu masalah yaitu limbah kulit buah. Limbah tersebut biasanya tidak dimanfaatkan secara optimal dan cenderung dijual dengan harga murah.

Salah satu limbah kulit buah yang dapat diolah dan bernilai ekonomis tinggi adalah kulit buah nanas. Kulit buah nanas merupakan limbah organik yang mengandung banyak nutrisi dan dapat diolah ulang baik untuk makanan atau minuman. Salah satu olahan yang dapat dihasilkan dari kulit buah nanas adalah Sirup Kulit Buah Nanas.

Kulit nanas ternyata dapat dimanfaatkan menjadi minuman sirup yang menyegarkan. Siswa-siswi MAN 1 Brebes telah membuktikannya, mereka berkreasi memanfaatkan kulit nanas dengan mengolah menjadi minuman sirup yang menyegarkan dan bernilai ekonomis tinggi. Bahan yang diperlukan juga cukup sederhana dan mudah diperoleh, yaitu asem belimbing, gula pasir, kunyit, jahe, garam, dan telur ayam.

Cara pembuatannya, pertama kulit nanas diiris tipis tipis, lalu dicuci dengan air dan garam hingga bersih. Garam berfungsi untuk menghilangkan gatal di kulit nanas. Setelah itu, irisan kulit nanas direbus bersama asem belimbing, gula, dan kunyit hingga mendidih, kemudian diangkat dan dinginkan. Bila ingin sirup buah ada rasa jahenya, potongan jahe dapat dicampuran saat melakukan perebusan, atau perasa lain sesuai dengan selera.

Proses selanjutnya adalah memisahkan ampas dengan sari buah nanas dengan cara menyaring dengan kain atau alat penyaring lainnya. Langkah selanjutnya, sari nanas direbus kembali hingga mendidih dan ditambahkan putih telur ayam yang diaduk secara merata. Putih telur tersebut berfungsi untuk mengikat sisa kotoran dari perasan nanas. Setelah diaduk, gumpalan putih telur disaring kembali hingga menghasilkan perasan air sari nanas yang bersih. Sirup nanas pun siap dihidangkan, dengan ditambah air dingin secukupnya. Produksi dapat dikembangkan secara komersial, melihat potensi limbah yang dihasilkan dari produksi keripik nanas.

sumber :http://agro.kemenperin.go.id/1671-Pemanfaatan-Limbah-Kulit-Buah-Nanas

Posted in Agoindustri, Umum | Tagged , , , | Leave a comment

Kripik Biji Karet


ImageBOGOR–Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKMP) berhasil menginovasi biji karet sebagai kudapan sehat dan bergizi.

“Biji karet dapat dijadikan keripik. Selain mengandung protein yang cukup tinggi, biji karet juga menandung asam amino esensial yang berguna untuk tubuh,” kata Ketua PKMP IPB Ahmad Mupahir di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Bersama teman satu tim, yakni Dede Permana, Ratih Kemala Dewi, Jun Harbi, dan Pipin Urip Kurniasih, mereka meneliti kandungan protein yang terdapat dalam biji karet cukup besar, yakni 23 persen.

Menurut Ahmad Mupahir, keripik merupakan makanan ringan khas Indonesia, di mana semua masyarakat menyukainya.

Namun, kata dia, selama ini keripik hanya dikenal menggunakan bahan baku singkong atau pisang.

“Kami memilih biji karet sebagai terobosan baru dan dalam rangka memanfaatkan hasil alam yang dianggap limbah,” katanya.

Ia menjelaskan, proses pembuatan keripik biji karet tidak terlalu sulit, yaitu biji karet yang putih dibersihkan agar getahnya hilang.

Kemudian, bahan tersebut direndam agar racunnya hilang.

Selanjutnya selama 30 menit direbus supaya steril, lalu dihancurkan dengan mesin penggiling.

Tahapan selanjutnya, adonan diberi bumbu, dipipihkan dalam bentuk lembaran, dan dipotong dalam bentuk keripik.

Proses selanjutnya, yakni digoreng menggunakan minyak goreng dan diberi penyedap rasa serta dikemas, hingga keripik siap dipasarkan.

“Kami berharap inovasi ini bisa diaplikasikan warga untuk membantu masalah kemiskinan dan gizi buruk,” katanya.

Ia menambahkan, biji karet, adalah salah satu bahan pangan yang belum dimanfaatkan maksimal. Selama ini, katanya, biji karet hanya dijadikan alat permainan anak-anak. Ada pula, kata dia, warga desa memanfaatkan biji karet sebagai bahan baku dasar pembuatan tempe.

Dengan inovasi yang dilakukan timnya, ia berharap ada pengayaan baru terhadap bahan yang selama ini belum banyak dimanfaatkan, namun punya nilai protein yang baik.

Sumber : Bisnis-jabar.com

Posted in Agoindustri, Umum | Tagged , , | Leave a comment